Sekarang tanggal, 17 Januari 2015?, kabar baik bagi teman-teman yang sedang menunggu buku ini dilahirkan. Karena
berdasarkan jadwal, mulai hari ini buku koala kumal terbit serentak secara
nasional. Jadi, tunggu apa lagi, kalian pun bisa menimangnnya
melalui toko-toko buku terdekat.
Ehem..
mestinya bang Dika baca ini. Saya sudah ikut mempromosikan dan setidaknya ada
lima postingan yang saya buat mengenai bukunya, termasuk yang ada di blog. Haha :P
Sesuai judul tulisan ini, sekarang masih
membahas seputar buku Koala Kumal. Jadi, ini merupakan lanjutan dari ulasan
sebelumnya, dan sekaligus bagian akhir dari keseluruhan resensi buku Koala Kumal.
Baca
sebelumnya: Kejanggalan dalam Buku Koala Kumal #ulasan1
Terlepas dari kejanggalan yang ada dalam
buku ini, menurut pendapat saya, buku ini tetaplah spesial. Bukan, bukan lantaran
saya salah satu penggemar buku-bukunya dan bisa enteng mengatakan seperti itu. Tapi,
ini lebih kepada isi cerita yang dihadirkan, lebih ‘menggigit’ dan tak
jarang ngebuat merenung sejenak.
Buku ini pun terasa lebih menarik dari
buku-buku sebelumnya. Karena di setiap babnya ada ilustrasi komiknya. Paling
banyak bisa ditemui di bab “Panduan
Cowok dalam Menghadapi Penolakan”. Setiap poinnya disertai ilustrasi komik
yang relevan dengan bentuk penolakan itu sendiri.
[Komik dari beberapa bab]
“Janganlah menyerah dalam mencari jodoh kalian.
Pikirkan baik-baik: jangan-jangan jodoh kamu adalah
orang yang selama ini ada di dekat kamu sendiri.” (Hal. 78)
Sebagian besar ceritanya mengenai
kehidupan Dika. Mulai dari kelas lima sekolah dasar, terus beranjak ke tahun 2012,
2005, 2010, dan seterusnya. Iyah, memang tidak berurutan berdasarkan waktu. Karena
ceritanya menyesuaikan dengan topik yang dibicarakan.
Terdapat pula, satu bab yang nyaris seluruhnya
berkisah tentang patah hati si Trisna, sahabat dekatnya. Selain berbicara perjalanan
dia dalam pesawat bersama Zafran. Bab itu adalah “Patah Hati Terhebat”. Sekaligus, menurut saya, bagian yang paling
membuat haru dari buku ini. Judulnya sendiri pun sudah mewakili dan selaras
dengan isinya yang begitu memdalam.
Dikisahkan bagaimana Trisna mengalami
patah hati terhebatnya. Perpisahan dari orang yang begitu ia sayangi. Bahkan,
perjuangan untuk mempertahankan hubungannya juga begitu besar ia lakukan. Namun,
ada kenyataan pahit yang harus ia terima. Kenyataan yang tak terfikirkan
sebelumnya.
“Semenjak saat itu gue ngebuang foto dia,
barang dari dia. Soalnya gue gak pernah kuat
kalo ngelihat foto gue berdua sama dia.” (Hal. 204)
Jujur saja, saya membaca bab itu rasanya
ikut tersayat hati ini. Jleb, begitu
mengetahui akhir dari semuanya harus seperti itu. Dada rasanya sesak, penuh
dengan apa, yaah? susah digambarkan. Serius. Mata berkaca-kaca *aah, ketahuan, tapi saya mencoba tetap
rileks.
Ini
buku buku komedi, Cho, buku komedii. Itulah
yang saya sugestikan dalam pikiran, untuk mengusir perasaan haru yang semakin memuncak -iya, gengsi saja kalau sampai nangis karena buku komedi, hhee. Barangkali, seperti itulah rasanya mengalami patah hati. Saya tidak bisa
membayangkan bagaimana rasanya jika berada di posisinya.
Kalau bagian yang paling lucu, cerita di
bab kedua “Ingat Ini Sebelum Bikin Film”.
Imajinasi liar Dika akan kekhawatiran dari respon Papanya, setelah menonton
filmnya. Bukan tanpa alasan, karena ada dialog Papanya –pada saat makan bersama dengan berlangsung ceweknya–, ikut
ditampilkan. Dialog itu bisa dibilang agak nyeleneh dan absurd sekali. (baca di
resensi)
“Ini tempat yang cocok. Jika bokap melakukan tindakan
kriminal, orang-orang Jepang ini pasti mau bersaksi
secara jujur
di pengadilan. Orang Jepang kan, terkenal jujur.” (Hal. 42)
“Gue menggenggam gelas green tea di tangan kanan gue.
Di saat ini gue menyesal, seharusnya gue memesan teh
botoh saja.
Paling tidak botolnya bisa gue jadikan senjata untuk
membela diri.” (Hal. 43)
Masih banyak lagi momen menegangkan yang
berlangsung sebelum dan sesudah pertemuan itu. Saya gak henti-hentinya dibuat ngakak.
Belum lagi komplain dari Mamanya. Karena
beliau juga kecewa dengan dialognya yang menurut Mamanya tidak bagus.
Secara keseluruhan buku ini bercerita
tentang pengalaman patah hati. Mulai
dari patah hati dalam hubungan persahabatan, seperti pada bab pertama “Ada Jangwe di Kepalaku”. Patah hati
ditinggal pacar, karena lebih memilih orang lain atau tanpa sengaja bikin orang
lain patah hati.
Seperti di bab “Lebih seram dari jurit malam”, sekalinya ditaksir cewek, Dika malah
kurang peka. Miris memang. Selain itu ada juga patah dari orang yang belum
dikenal. Terdapat pada bab ketujuh, yaitu “Perempuan
Tanpa Nama”. Dan masih banyak kisah lainnya yang menyangkut patah hati.
"Kadang perempuan tanpa nama ini datang pada waktu yang salah.
Kadang, perempuan tanpa nama ini datang pada waktu yang teapat,
tetapi orangnya yang salah: dia gak mau aja sama gue." (Hal. 137)
***
Di setiap lembarnya kita bisa dibuat
tersenyum dan bahkan tertawa lebar. Namum, akan lebih banyak dibuat merenung
dan berfikir. Buku ini tergolong bacaan ringan, tapi cukup mendalam untuk
direnungi sejenak. Dan, salah satu yang paling ditunggu adalah bagian akhir
setiap babnya. Karena, Dika selalu memberikan penutup yang mencerahkan.
Tapi, mungkin agak sedikit mengherankan,
soalnya ini buku bergenre humor. Tetapi ceritanya cenderung mellow. Sekalipun dengan balutan komedi
khasnya, tapi lelucon segarnya hanya mampu menutupinya sesesat. Ketika
membacanya akan ada jeda, antara ketawa dan terdiam merenung. Itu cukup terasa.
Barangkali inilah yang dimaksud komedi dengan hati. Apabila membacanya, tak hanya selesai dengan tawa
saja. Lebih dari sekedar itu. Dari buku ini juga kelihatan pikiran atau pandangan
seorang Raditya Dika, makin ke sini, nampaknya lebih kritis dan dewasa.
Satu lagi yang disayangkan yaitu, jumlah
halaman bukunya tidak jauh beda dari Manusia Setengah Salmom (MSS). Mengingat penantian
yang cukup lama dari kelahiran buku sebelumnya itu. Padahal jarak MSS dengan
Marmut Merah Jambu, cuma satu setengah tahunan saja. Bayangkan, ini tiga
tahun?, halamannya hanya segitu saja?. *digigit
si Koala
Yang pasti, saya cukup puas dengan anak ketujuhnya ini. Meskipun jumlah babnya juga lebih sedikit dari MSS. Tapi buku
ini tetap hadir dengan pesan yang mendalam dan syarat nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pelajaran. Well, buku ini layak menemani waktu santai kalian. Rekomendasi.
Selamat membaca, teman-teman :).
“Problemnya, bukan mencari orang yang lebih baru,
tetapi untuk memperjuangkan yang nyaman.” (Hal. 68)
Baca Tulisan Lainnya:


mas sepertinya suka ya karya raditya ini :D
BalasHapusBetul, mas, ngehehe. selalu nunggu buku-buku selanjutnya ;)
Hapuskalau ada langsung di resensi ya mas ;D
Hapussiap, Mas, hhehe. entah nunggu berapa tahun lagi buku berikutnya lahir :D
HapusBerarti, kalau dilihat dari reviewnya kamu ini, nggak jauh beda sama manusia setengah salmon ya, hehe,... Tapi tetep aku harus beli ini. Hahaha.,.
BalasHapusEum, masih lelucon khas dia yang menjelek2an diri sendiri, mas. tapi ada perbedaan, ini lebih mellow. agak di luar ekspektasi saya. karena bukunya kali ini terlalu main perasaan, ya soal patah hati. keseluruhan lebih ok menurut saya :D. asiik, beli jugga ;)
Hapuskalau membaca ulasan dari artikel diatas, sepertinya menariknya juga ya isi ceritanya..
BalasHapusJauh lebih menarik lagi bukunya, mbak *pastinya :D. rekomendasi deh :D
Hapuskayanya ini buku bermanfaat bagi cwo yang sering di tolak sama cwe ya kang :D , , itung2 buat motivasi :D
BalasHapusAda bab khusus yang membahas itu, mas. jadi bisa membantu, hhaha. kalau lagi patah hati, disarankan kalau membaca melalui pengawasan orang tua. haha. *canda
HapusSepertinya memang benar-benar penggemar karya raditya ni mas richoku, soalnya dari kemarin membahas tentang buku-buku karya raditya :)
BalasHapussepertinya begitu, mas :D :D. suka buku-bukunya, hhehe. seru ngomonginnya, hehe.
Hapusdi daerah saya sayang jauh dari pusat kota Mas, jadi harus ke kota jika ingin membeli buku buku semacam ini
HapusWah, kalau gitu sama sih, mas. di Sumenep juga belum ada Gr*med, T*ga, dsb. cuma toko buku perlengkapan sekolah. saya beli online jadinya, nihihi.
HapusBeli online sangat rumit Mas, didaerah saya, kantor pos dan kantor jasa sejenisnya sangat jauh dari tempat tinggal saya, butuh waktu sekitar 3 jam untuk mencapainya
HapusWah, repot juga kalau gitu, mas. kalau jarak tempuh makin jauh, tentunya beban ongkir semakin berat. barangkali mas Arie pas ke kota baru sekalian beli borongan bukunya yah, mas. hhe.
HapusBeuh jadi penasaran mau beli bukunya -___-
BalasHapusMonggo, mas Agus, selamat membaca nantinya. hhe.
Hapusrajin banget ya mas dikau ini, ngebacanya bener2 penuh penghayatan, setiap detail jeli bget...
BalasHapusmbak Dwi mah ada-ada saja, haha. itu menghayati patah hati, juga ikut nyesek jadinya mbak :D :D
HapusHai Richo :)
BalasHapusKemaren aku ketinggalan order yang pre-sale nya lho, padahal bisa dapet kaosnya kan yah :)
udah diniatin banget mau beli deh :)
Dan memang semakin kesini buku2nya Raditya Dika semakin berkembang, sesuai usianya dia juga lah, yang sekarang udah menginjak 30...
Bukunya pun jadi lebih berbobot walopun masih masuk ke genre komedi :)
Dalleem, mbak :)
Hapuswua gitu, sayang sekali gak kebagian kuota dong, mbak. saya demi msuk 1000 pertama, sampai bela-belaain begadang depan ATM pula, hhaha.
Rasanya begitu, mbak. kerasa dari bahasannya juga, semakin enak dibaca. usia yang cukup matang yah, mbak. hhehe. tinggal nunggu kabar menikah, eh. hhaha.
Benar sekali, mbak, lebih jleb, bikin perasaan ikut terkoyak, hhaha.
saya juga yang baca artikel disini sampai tergigit. hehe
BalasHapusHuaha, segera obati loh, mas. nanti infeksi, behehe :P
HapusWah udah baca yang versi pertama yang ini juga makin jadi pengin beli, tapi gak punya uang. Beliin doong. \:p/
BalasHapusPuji syukur, berkat perjuangan pre-order, mas. hhaha. sama ah, gimana kalau pinjam saja, hihhii.
HapusSepintas baca uraian di atas kayaknya menarik juga nie bukunya
BalasHapusJauh lebih menarik bukunya, mas *yaialah, Cho. hhaha. monggo dibaca juga, mas *ngompori
HapusBukunya ada komiknya juga?
BalasHapusSeru, ya.
Hebat nih, Mas Richo ngulasnya komplit dan detail banget.
Yap, ada ilustrasi komiknya, mbak.
Hapusbangeeet, ngejleb pula. haha.
Hihi, mbak berlebihan ah, saking bukunya seru, jadi ngebahasnya gak kerasa kalau sebanyak itu, mbak :D
Kenapa harus ada sedih-sedihnya sih? :(
BalasHapusHampir sebagian isinya gitu, mbak Beb. bicara soal patah hati, ngejleb :D
HapusCiyan :(
HapusCiyan bingit, hihi.
HapusPernah baca tapi gak sampai habis,
BalasHapusdan sekarang baca di postingannya Mas Richo sampai habis..:)
Tanggung, Om, ceritanya bagus yah, hhe.
Hapushhehe, terima kasih banyak, Om :)
karya raditya memang bagus-bagus ya mas..
BalasHapussaya harus baca nih...
Sepakat, mas, apalagi yang ini, makin kece :D
Hapusmonggo, bacaan komedi yang menyentuh hati, hhe.
ada yang sedih ceritanya ya mas, tapi ndak masalah kalau kesedihan itu bermakna :D
BalasHapuscukup dominan, Mas. patah hati yang dibahas, jadinya ngejleb, hhe.
Hapusreviewnya bagus jadi penasaran pengen beli bukunya hehe
BalasHapusterima kasih, mbak. monggo, biar ketawa dan sambil ikut sedih dengan ceritanya, haha.
HapusPanduan cowok dalam menghadapi penolakan :v ? Senyum2 aja bacanya :v
BalasHapusJadi penasaran bukunya, mas. Haha
Iyah, mbak, hhaha. kenapa, nyari panduan menghadapi penolakan cowok?, ahaha, canda :P. ayuk bacaaaa, yehehe. suka ngompori :D
HapusAku bel;om punya buku ini, kayaknya belinya ntar nungguin pas Raditya Duika ke Semarang aja deh, skalian book signing n foto bareng hehehe
BalasHapusOh, sekalian nunggu meet and greetnya yah, mbak. ahahai, ide cemerlang, sambil menyelam minum air deh :D. ditunggu saja, mbak ;). yang di Malang nanti tanggal 03nya :D
HapusSaya punya beberapa bukunya. Kocak banget penulis yang satu ini ya mas. Haha.
BalasHapusTapi belum punya Koala Kumal, belum sempat beli. Dari review di atas, sepertinya menarik. Banyak ilustrasinya. Berasa bukunya Bena, Benabook. Kreatif abis.
Wih, ada penyuka karya bang Dika juga nih. tos kita, mas Renggo :D. gayanya yang suka menjelek2an diri sendiri, bahkan keluarga itu yang gokil, hihi. kalau mas kudu punya yang terbaru ini. oh iyah, Bena Kribo yah :D
HapusSaya termasuk pengagum Raditya Dika, tulisannya ringan dan dapat menginspirasi. Pengaruhnya kuat banget ni orang, sampai-sampai masuk orang mudah berpengaruh di Sosmed, dengan jumlah follower hingga 10 juta sekarang.
BalasHapusKeren, juga nih ulasannya Mas, bisa dong saya numpang belajar disini..., thanks dan salam kenal
Sama, Om, saya juga, hhehe. iyah, terutama kalangan blogger. karena dia menjadi salah satu contoh blogger yang sukses sampai tenar seperti sekarang ini.
HapusTerima kasih, Om. kebalik tapi, saya yang mesti belajar dari Om Daniel. salam kenal juga :)
ampun dah,
BalasHapus-__-
bukunya pen banget dibawa pulang..
Bawa pulang saja saya, mbak *looh. haha.
Hapusdipinjam boleh, mbak. tapi jangan dibawa pulang *kayak perpus saja :D